Top Qs
Timeline
Obrolan
Perspektif
Masyarakat
kelompok orang yang memiliki hubungan antarindividu melalui hubungan yang tetap, atau kelompok sosial yang besar yang berbagi wilayah dan subjek yang sama kepada otoritas dan budaya yang sama Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas
Remove ads
Masyarakat adalah sekelompok individu yang terlibat dalam interaksi sosial yang berkesinambungan, atau suatu kelompok sosial besar yang berbagi wilayah sosial maupun spasial yang sama, biasanya berada di bawah otoritas politik yang sama serta tunduk pada norma budaya dominan yang serupa. Masyarakat dicirikan oleh pola hubungan (hubungan sosial) antarindividu yang berbagi kebudayaan dan lembaga khas; suatu masyarakat dapat digambarkan sebagai keseluruhan dari jalinan hubungan antaranggota yang membentuknya.
Searah jarum jam dari kiri atas: Sebuah keluarga di Savannakhet, Laos; keramaian di Maharashtra, India; sebuah parade militer pada hari nasional Spanyol.
Struktur sosial manusia bersifat kompleks dan sangat kooperatif, ditandai dengan adanya pembagian kerja melalui peran sosial. Masyarakat membentuk peran dan pola perilaku tertentu dengan menetapkan tindakan atau gagasan yang dianggap dapat diterima maupun tidak; harapan-harapan perilaku dalam suatu masyarakat semacam ini disebut sebagai norma sosial. Selama sifatnya kolaboratif, suatu masyarakat memungkinkan para anggotanya memperoleh manfaat yang sulit dicapai bila bertindak secara individual.
Masyarakat memiliki tingkat teknologi dan jenis kegiatan ekonomi yang berbeda-beda. Masyarakat yang lebih besar dan memiliki surplus pangan yang melimpah sering kali menunjukkan pola stratifikasi atau hierarki kekuasaan. Bentuk pemerintahan, sistem kekerabatan, serta peran gender juga dapat bervariasi luas di antara masyarakat-masyarakat tersebut. Perilaku manusia sangat beragam antarberbagai masyarakat; manusia membentuk masyarakat, tetapi pada saat yang sama masyarakat turut membentuk manusia.
Remove ads
Etimologi dan penggunaan
Istilah "masyarakat" sering merujuk pada sekelompok besar manusia dalam suatu komunitas yang teratur, baik dalam satu negara maupun beberapa negara yang serupa, atau pada "keadaan hidup bersama dengan orang lain", seperti dalam ungkapan "mereka hidup dalam masyarakat abad pertengahan".[1] Istilah society dalam bahasa Inggris telah digunakan setidaknya sejak tahun 1513 dan berakar dari bahasa Prancis abad ke-12 societe (bahasa Prancis modern: société) yang berarti 'perkumpulan'.[2] Kata societe sendiri diturunkan dari istilah Latin societas yang berarti 'persekutuan, aliansi, asosiasi', yang pada gilirannya berasal dari kata benda socius yang berarti 'kamerad, sahabat, sekutu'.[2]
Kata "sosial" berasal dari istilah Latin socii yang berarti 'sekutu'. Istilah ini secara khusus diturunkan dari nama negara-negara Socii di Italia, yaitu sekutu-sekutu historis Republik Romawi, yang kemudian memberontak melawan Roma dalam Perang Sosial pada 91–87 SM.[3]
Remove ads
Konsep
Ringkasan
Perspektif
Dalam biologi

Manusia, bersama kerabat terdekatnya seperti bonobo dan simpanse, adalah hewan yang sangat sosial. Konteks biologis ini menunjukkan bahwa sifat sosial yang mendasari pembentukan masyarakat tertanam secara mendalam dalam hakikat manusia.[4] Masyarakat manusia memperlihatkan tingkat kerja sama yang sangat tinggi, dan berbeda secara signifikan dari kelompok simpanse atau bonobo, antara lain dalam hal peran keayahan pada anak,[5][6] penggunaan bahasa sebagai sarana komunikasi,[4] pembagian kerja yang semakin terspesialisasi,[7] serta kecenderungan membangun "sarang" berupa perkemahan antargenerasi, permukiman, atau kota.[7]
Beberapa ahli biologi, termasuk entomolog E. O. Wilson, menggolongkan manusia sebagai makhluk eusosial, menempatkan manusia sejajar dengan semut pada tingkat tertinggi dalam spektrum etologi hewan, meskipun pandangan ini masih diperdebatkan.[7] Hidup berkelompok secara sosial mungkin berevolusi pada manusia melalui seleksi kelompok di lingkungan fisik yang keras dan menantang bagi kelangsungan hidup.[8]
Dalam sosiologi
Dalam tradisi sosiologi Barat, terdapat tiga paradigma utama dalam memahami masyarakat, yakni fungsionalisme (atau fungsionalisme struktural), teori konflik, dan interaksionisme simbolik.[9]
Menurut pandangan Karl Marx,[10] manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial secara intrinsik, niscaya, dan secara definisi, yang tak hanya sekadar "makhluk berkelompok", melainkan tidak dapat bertahan hidup atau memenuhi kebutuhannya tanpa kerja sama dan interaksi sosial. Sifat sosial ini, menurut Marx, merupakan fakta objektif yang melekat sejak lahir dan diteguhkan melalui proses sosialisasi; serta dalam proses memproduksi dan mereproduksi kehidupan materialnya, manusia mau tak mau akan masuk ke dalam hubungan produksi yang "independen dari kehendak mereka".
Sebaliknya, sosiolog Max Weber[10] mendefinisikan tindakan manusia sebagai "sosial" apabila, berdasarkan makna subjektif yang dilekatkan oleh individu pada tindakannya, tindakan tersebut "memperhitungkan perilaku orang lain dan karenanya terarah oleh hal itu".
Fungsionalisme
Menurut mazhab pemikiran fungsionalis, individu dalam masyarakat bekerja bersama layaknya organ-organ dalam tubuh yang saling mendukung untuk menciptakan perilaku yang emergen, yang kadang disebut sebagai kesadaran kolektif.[11] Sosiolog abad ke-19 seperti Auguste Comte dan Émile Durkheim meyakini bahwa masyarakat membentuk suatu "tingkatan" realitas tersendiri yang terpisah dari materi biologis maupun anorganik. Karena itu, penjelasan atas fenomena sosial harus dibangun di atas tingkat realitas ini, dengan individu-individu dipandang hanya sebagai pengisi sementara dari peran-peran sosial yang relatif stabil.[12]
Teori konflik
Para penganut teori konflik memandang masyarakat dari sudut yang berlawanan, dengan menegaskan bahwa individu serta kelompok sosial atau kelas sosial di dalam masyarakat berinteraksi atas dasar konflik, bukan kesepakatan. Salah satu tokoh terkemuka teori ini adalah Karl Marx, yang memandang masyarakat bekerja di atas suatu "basis ekonomi" dengan "suprastruktur" berupa pemerintahan, keluarga, agama, dan kebudayaan. Marx berargumen bahwa basis ekonomi menentukan bentuk suprastruktur tersebut, dan bahwa sepanjang sejarah, perubahan sosial didorong oleh pertentangan antara kaum pekerja dan mereka yang memiliki alat-alat produksi.[13]
Interaksionisme simbolik
Interaksionisme simbolik merupakan teori mikrososiologis yang berfokus pada individu serta hubungan antara individu dan masyarakatnya.[14] Kaum interaksionis simbolik mengkaji bagaimana manusia menggunakan bahasa bersama untuk menciptakan simbol dan makna yang sama,[15] serta memanfaatkan kerangka ini untuk memahami bagaimana individu berinteraksi dalam membangun dunia simbolik, dan pada gilirannya, bagaimana dunia simbolik tersebut membentuk perilaku individu.[16]
Pada paruh kedua abad ke-20, para teoretikus mulai memandang masyarakat sebagai sesuatu yang terbentuk secara sosial.[17] Dalam kerangka ini, sosiolog Peter L. Berger menggambarkan masyarakat sebagai sesuatu yang "dialektis": masyarakat diciptakan oleh manusia, tetapi pada saat yang sama, ciptaan ini berbalik membentuk dan membentuk ulang manusia itu sendiri.[18]
Pandangan non-Barat

Penekanan sosiologis terhadap fungsionalisme, teori konflik, dan interaksionisme simbolik telah dikritik sebagai bentuk Erosentrisme.[19] Sosiolog asal Malaysia, Syed Farid al-Attas, misalnya, berpendapat bahwa para pemikir Barat sangat menaruh perhatian pada implikasi modernitas, sehingga analisis mereka terhadap kebudayaan non-Barat menjadi terbatas dalam ruang lingkupnya.[19] Sebagai contoh pemikir non-Barat yang mengambil pendekatan sistematis dalam memahami masyarakat, al-Attas menyebut Ibn Khaldun (1332–1406) dan José Rizal (1861–1896).[19]
Khaldun, seorang Arab yang hidup pada abad ke-14, memahami masyarakat, bersama seluruh alam semesta, sebagai sesuatu yang memiliki "tatanan bermakna", di mana segala bentuk keacakan yang tampak sesungguhnya berpangkal pada sebab-sebab tersembunyi. Ia memandang struktur sosial memiliki dua bentuk dasar: kehidupan nomadik dan kehidupan menetap. Kehidupan nomadik ditandai oleh kohesi sosial yang tinggi (‘asabiyyah), yang menurut Khaldun muncul dari hubungan kekerabatan, adat bersama, serta kebutuhan kolektif akan pertahanan diri. Sementara itu, kehidupan menetap menurut Khaldun justru dicirikan oleh sekularisasi, menurunnya kohesi sosial, serta meningkatnya ketertarikan terhadap kemewahan.[20]
Adapun Rizal, seorang nasionalis Filipina yang hidup menjelang akhir masa penjajahan Spanyol, mengembangkan teori tentang masyarakat kolonial. Ia menolak pandangan kolonial yang menuduh rakyat Filipina sebagai bangsa pemalas (indolent), dengan menegaskan bahwa "kemalasan" itu justru merupakan akibat dari penjajahan itu sendiri. Rizal membandingkan masa pra-kolonial, ketika bangsa Filipina menguasai jalur perdagangan dan memiliki aktivitas ekonomi yang tinggi, dengan masa pemerintahan kolonial, dan berargumen bahwa eksploitasi, kekacauan ekonomi, serta kebijakan kolonial yang melemahkan sektor pertanian telah menumbuhkan ketidaktertarikan terhadap kerja.[21]
Remove ads
Jenis
Ringkasan
Perspektif
Para sosiolog umumnya mengklasifikasikan masyarakat berdasarkan tingkat teknologinya, dan membaginya ke dalam tiga kategori besar: praindustri, industri, dan pascaindustri.[22]
Pembagian di dalam kategori-kategori tersebut dapat bervariasi, dan klasifikasi sering kali bergantung pada tingkat kemajuan teknologi, komunikasi, serta struktur ekonomi. Salah satu contoh klasifikasi semacam ini dikemukakan oleh sosiolog Gerhard Lenski, yang membedakan masyarakat menjadi: (1) pemburu-pengumpul; (2) hortikultural; (3) agraris; dan (4) industri; serta menambahkan jenis masyarakat yang lebih khusus, seperti masyarakat nelayan atau penggembala.[23]
Sebagian kebudayaan telah berkembang dari waktu ke waktu menuju bentuk organisasi dan pengendalian yang lebih kompleks. Proses evolusi budaya ini memiliki dampak mendalam terhadap pola kehidupan komunitas. Suku-suku pemburu-pengumpul, pada masa tertentu, menetap di sekitar sumber pangan musiman dan bertransformasi menjadi desa-desa agraris. Desa-desa kemudian tumbuh menjadi kota kecil dan akhirnya menjadi kota besar. Kota-kota tersebut berkembang menjadi negara kota dan kemudian negara bangsa. Namun demikian, proses ini tidak selalu berlangsung secara searah dan linear.[24]
Praindustri
Dalam masyarakat praindustri, produksi pangan, yang bergantung pada tenaga manusia maupun hewan, merupakan kegiatan ekonomi utama. Masyarakat semacam ini dapat dibedakan lebih lanjut berdasarkan tingkat teknologi dan cara mereka memproduksi makanan. Klasifikasi tersebut meliputi masyarakat pemburu-pengumpul, pastoral, hortikultural, dan agraris.[23]
Berburu dan mengumpulkan makanan

Bentuk utama produksi pangan dalam masyarakat pemburu-pengumpul adalah pengumpulan harian tumbuhan liar dan perburuan hewan liar. Masyarakat pemburu-pengumpul senantiasa berpindah tempat untuk mencari sumber makanan.[25] Akibatnya, mereka tidak membangun desa permanen maupun menciptakan berbagai jenis artefak yang beragam. Kebutuhan untuk terus berpindah juga membatasi ukuran komunitas mereka; oleh karena itu, masyarakat semacam ini biasanya membentuk kelompok kecil seperti gerombolan atau suku,[26] dengan jumlah anggota yang umumnya kurang dari 50 orang per komunitas.[27][26]
Kelompok gerombolan dan suku umumnya bersifat egaliter, di mana keputusan diambil melalui proses konsensus. Tidak terdapat jabatan politik formal yang memiliki kekuasaan nyata dalam masyarakat gerombolan; seorang kepala suku hanyalah sosok berpengaruh, dan kepemimpinan didasarkan pada kualitas pribadi.[28] Keluarga menjadi unit sosial utama, dengan sebagian besar anggotanya memiliki hubungan darah atau ikatan perkawinan.[29]
Antropolog Marshall Sahlins menggambarkan masyarakat pemburu-pengumpul sebagai "masyarakat makmur asli" karena mereka memiliki waktu luang yang relatif banyak. Sahlins memperkirakan bahwa orang dewasa dalam masyarakat pemburu-pengumpul bekerja hanya tiga hingga lima jam per hari.[30][31]
Pandangan ini kemudian diperdebatkan oleh sejumlah peneliti lain yang menyoroti tingginya tingkat kematian serta keberadaan peperangan antarkelompok dalam masyarakat pemburu-pengumpul.[32][33][34]
Mereka yang mendukung pandangan Sahlins berpendapat bahwa kesejahteraan umum dalam masyarakat pemburu-pengumpul menantang anggapan konvensional yang mengaitkan kemajuan teknologi dengan kemajuan manusia.[35][36]
Pastoral

Alih-alih mencari makanan setiap hari, anggota masyarakat pastoral bergantung pada hewan ternak jinak untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Masyarakat pastoral umumnya menjalani kehidupan nomaden, memindahkan kawanan ternak dari satu padang rumput ke padang rumput lain sesuai musim dan ketersediaan sumber daya.[37]
Ukuran komunitas dalam masyarakat pastoral relatif serupa dengan masyarakat pemburu-pengumpul (sekitar 50 orang), namun berbeda dalam skala sosialnya: masyarakat pastoral biasanya terdiri atas banyak komunitas kecil, dan satu kesatuan masyarakat pastoral rata-rata dapat mencakup ribuan individu. Hal ini dimungkinkan karena mereka hidup di wilayah terbuka yang memudahkan perpindahan dan memperkuat integrasi politik antar kelompok.[38]
Masyarakat pastoral cenderung menghasilkan surplus pangan, serta memiliki pembagian kerja yang semakin terspesialisasi[22] dan tingkat ketimpangan sosial yang tinggi.[38]
Hortikultural
Buah-buahan dan sayur-sayuran yang ditanam di lahan kebun, yang dibuka dari hutan atau semak belukar, menjadi sumber pangan utama bagi masyarakat hortikultural. Tingkat teknologi dan kompleksitas sosial mereka sebanding dengan masyarakat pastoral.[39]
Bersama masyarakat pastoral, komunitas hortikultural mulai muncul sekitar 10.000 tahun yang lalu, setelah perubahan teknologi dalam Revolusi Pertanian memungkinkan manusia menanam tanaman dan memelihara hewan secara sistematis.[39] Para peladang hortikultural mengandalkan tenaga manusia dan peralatan sederhana untuk mengolah tanah selama satu atau beberapa musim tanam. Ketika tanah mulai tandus, mereka akan membuka lahan baru dan membiarkan lahan lama kembali ke kondisi alaminya. Setelah beberapa tahun, mereka dapat kembali ke lahan semula dan mengulang proses tersebut. Dengan sistem rotasi kebun semacam ini, masyarakat hortikultural dapat bertahan di satu wilayah dalam jangka waktu yang lama, bahkan memungkinkan mereka membangun pemukiman permanen atau semi permanen.[40]
Seperti halnya masyarakat pastoral, surplus pangan mendorong terjadinya pembagian kerja yang lebih kompleks. Peran-peran khusus dalam masyarakat hortikultural mencakup perajin, dukun atau pemimpin keagamaan, serta pedagang.[40] Spesialisasi peran ini memungkinkan mereka menciptakan beragam artefak budaya. Namun, kelangkaan sumber daya dan kebutuhan untuk mempertahankan wilayah dapat memunculkan ketimpangan kekayaan di dalam sistem politik masyarakat hortikultural.[41]
Agraris

Masyarakat agraris memanfaatkan kemajuan teknologi pertanian untuk menanam tanaman di lahan yang luas. Lenski membedakan masyarakat hortikultural dari masyarakat agraris berdasarkan penggunaan bajak.[42] Berkat peningkatan teknologi dan hasil pangan yang lebih besar, komunitas agraris umumnya jauh lebih besar daripada komunitas hortikultural. Surplus pangan yang melimpah ini memungkinkan munculnya kota-kota yang berkembang menjadi pusat perdagangan. Kegiatan ekonomi tersebut kemudian melahirkan tingkat spesialisasi yang lebih tinggi, munculnya kelas penguasa, pendidik, perajin, pedagang, serta tokoh keagamaan yang tidak lagi terlibat langsung dalam produksi pangan.[43]
Masyarakat agraris dikenal karena ketimpangan kelas sosialnya yang sangat tajam serta mobilitas sosial yang kaku.[44] Karena tanah menjadi sumber kekayaan utama, hierarki sosial pun berkembang berdasarkan kepemilikan tanah, bukan pada tenaga kerja. Sistem stratifikasi sosial ini ditandai oleh tiga perbedaan yang saling berkaitan: kelas penguasa berhadapan dengan rakyat jelata, minoritas perkotaan berhadapan dengan mayoritas petani, serta kelompok terdidik berhadapan dengan masyarakat buta huruf. Dari sinilah lahir dua subkultur yang berbeda: kaum elite perkotaan dan massa tani. Akibatnya, perbedaan budaya di dalam masyarakat agraris justru lebih besar dibandingkan perbedaan antar masyarakat agraris itu sendiri.[45]
Strata pemilik tanah umumnya menggabungkan lembaga pemerintahan, keagamaan, dan militer untuk melegitimasi serta mempertahankan kekuasaan mereka, sambil mendukung pola konsumsi yang mewah. Dalam sistem ini, perbudakan, perbudakan tani, atau kerja paksa kerap menjadi nasib bagi para produsen utama. Para penguasa masyarakat agraris sering kali tidak mengelola wilayah kekuasaannya demi kepentingan umum atau atas nama kepentingan publik, melainkan memperlakukannya sebagai properti pribadi.[46]
Sistem kasta, seperti yang secara historis ditemukan di Asia Selatan, erat kaitannya dengan masyarakat agraris, di mana rutinitas pertanian seumur hidup bergantung pada rasa kewajiban dan disiplin yang kaku. Cendekiawan Donald Brown berpendapat bahwa penekanan pada kebebasan dan hak individu di dunia Barat modern, sebagian besar, merupakan reaksi terhadap stratifikasi sosial yang curam dan kaku yang melekat pada masyarakat agraris.[47]
Industrialis

Masyarakat industrial, yang muncul pada abad ke-18 seiring dengan Revolusi Industri, sangat bergantung pada mesin yang digerakkan oleh sumber energi eksternal untuk produksi massal barang-barang konsumsi.[48][49] Jika dalam masyarakat pra-industri sebagian besar tenaga kerja terpusat pada sektor primer yang berfokus pada ekstraksi bahan mentah (seperti pertanian, perikanan, dan pertambangan), maka dalam masyarakat industri tenaga kerja lebih banyak diarahkan pada pengolahan bahan mentah menjadi produk jadi.[50] Masyarakat modern kini menunjukkan tingkat industrialisasi yang beragam, ada yang sepenuhnya bergantung pada sumber energi baru seperti batu bara, minyak bumi, dan energi nuklir, sementara sebagian lainnya masih mempertahankan ketergantungan pada tenaga manusia dan hewan.[51]
Proses industrialisasi berkaitan erat dengan ledakan populasi dan pertumbuhan kota. Produktivitas yang meningkat, ditambah kestabilan yang dihasilkan oleh sistem transportasi yang lebih baik, menyebabkan penurunan angka kematian dan pertumbuhan jumlah penduduk.[52] Produksi barang yang tersentralisasi di pabrik-pabrik serta berkurangnya kebutuhan tenaga kerja di bidang pertanian turut memicu proses urbanisasi.[49][53] Masyarakat industri umumnya bersifat kapitalistik, dengan tingkat ketimpangan sosial yang tinggi, tetapi juga memiliki mobilitas sosial yang besar, karena para pengusaha dapat mengakumulasi kekayaan dalam jumlah besar melalui mekanisme pasar.[49] Kondisi kerja di pabrik umumnya ketat dan keras.[54] Para pekerja yang memiliki kepentingan bersama sering kali membentuk serikat buruh untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan mereka.[55]
Secara keseluruhan, masyarakat industri ditandai oleh meningkatnya kekuasaan manusia atas alam dan lingkungannya. Kemajuan teknologi memperluas kemampuan manusia, termasuk dalam hal peperangan, yang menjadi semakin mematikan. Pemerintah pun memanfaatkan teknologi informasi untuk memperketat kontrol terhadap masyarakat. Namun, bersamaan dengan itu, dampak lingkungan yang dihasilkan oleh masyarakat industri juga meningkat secara signifikan.[56]
Pascaindustrialis
Masyarakat pascaindustri adalah masyarakat yang ditandai oleh dominasi sektor informasi dan jasa, bukan lagi oleh produksi barang.[57] Dalam masyarakat industri maju, terjadi pergeseran besar menuju pertumbuhan sektor jasa dibandingkan sektor manufaktur. Industri jasa mencakup bidang pendidikan, kesehatan, dan keuangan.[58]
Informasi

Masyarakat informasi adalah bentuk masyarakat di mana penggunaan, penciptaan, distribusi, manipulasi, dan integrasi informasi menjadi kegiatan yang amat penting dan menentukan.[59] Para pendukung gagasan bahwa masyarakat global modern merupakan masyarakat informasi berpendapat bahwa teknologi informasi telah memengaruhi hampir seluruh bentuk utama organisasi sosial, termasuk pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemerintahan, peperangan, dan tingkat demokrasi.[60]
Meskipun konsep masyarakat informasi telah diperbincangkan sejak tahun 1930-an, pada masa kini istilah tersebut hampir selalu dikaitkan dengan cara teknologi informasi memengaruhi masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, konsep ini mencakup dampak komputer dan telekomunikasi terhadap kehidupan rumah tangga, dunia kerja, lembaga pendidikan, pemerintahan, serta beragam komunitas dan organisasi sosial, termasuk pula kemunculan bentuk-bentuk sosial baru di dalam ruang siber.[61]
Pengetahuan

Seiring meningkatnya akses terhadap sumber daya informasi elektronik pada awal abad ke-21, perhatian masyarakat pun meluas dari konsep masyarakat informasi menuju gagasan tentang masyarakat pengetahuan. Masyarakat pengetahuan adalah masyarakat yang mampu menghasilkan, membagikan, serta menyediakan pengetahuan bagi seluruh anggotanya, sehingga pengetahuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki keadaan manusia.[62]
Masyarakat pengetahuan berbeda dari masyarakat informasi karena tidak sekadar menciptakan dan menyebarkan data mentah, melainkan mengubah informasi menjadi sumber daya yang memungkinkan masyarakat bertindak secara efektif.[63]
Remove ads
Karakteristik
Ringkasan
Perspektif
Norma dan peran
Norma sosial merupakan standar perilaku yang dianggap dapat diterima bersama oleh suatu kelompok masyarakat.[64][65] Norma sosial dapat berupa kesepahaman tak tertulis yang mengatur perilaku anggota masyarakat, atau dapat pula dilembagakan menjadi aturan dan hukum formal.[66] Norma-norma tersebut merupakan penggerak kuat perilaku manusia dan membentuk dasar keteraturan sosial.[67]
Peran sosial merupakan himpunan norma, kewajiban, dan pola perilaku yang berkaitan dengan status sosial seseorang.[68] Dalam pandangan fungsionalis, individu membentuk struktur masyarakat dengan menempati berbagai peran sosial.[12] Sementara itu, menurut teori interaksionisme simbolik, individu menggunakan simbol untuk menavigasi serta mengomunikasikan peran-peran tersebut.[69] Erving Goffman menggunakan metafora teater untuk mengembangkan kerangka dramaturgis, yang berargumen bahwa peran sosial menyediakan "naskah" yang mengatur bagaimana interaksi sosial dijalankan.[69]
Gender dan kekerabatan

Pembagian manusia ke dalam peran gender laki-laki dan perempuan secara kultural ditandai oleh pemisahan norma, praktik, pakaian, perilaku, hak, kewajiban, keistimewaan, status, dan kekuasaan yang bersesuaian. Sebagian kalangan berpendapat bahwa peran gender muncul secara alami dari perbedaan biologis antara jenis kelamin, yang kemudian melahirkan pembagian kerja di mana perempuan lebih banyak mengambil peran dalam kerja reproduktif dan kegiatan domestik lainnya.[70] Namun, peran gender telah banyak mengalami perubahan sepanjang sejarah, dan tantangan terhadap norma gender dominan berulang kali muncul di berbagai masyarakat.[71][72]
Seluruh masyarakat manusia mengenali, mengatur, dan mengklasifikasikan berbagai jenis hubungan sosial berdasarkan relasi antara orang tua, anak, dan keturunan lainnya (pertalian darah), serta hubungan melalui pernikahan (affinitas). Terdapat pula bentuk hubungan kekerabatan ketiga yang berlaku bagi orang tua baptis atau anak angkat (fiktif). Hubungan-hubungan yang ditentukan secara kultural ini disebut kekerabatan. Dalam banyak masyarakat, kekerabatan merupakan salah satu prinsip pengorganisasian sosial yang paling penting, dan berperan dalam pewarisan status serta warisan.[73] Semua masyarakat juga memiliki aturan mengenai larangan inses, yang menetapkan bahwa pernikahan antara kerabat tertentu dilarang; sementara sebagian masyarakat lainnya justru memiliki aturan yang menganjurkan pernikahan dengan kerabat tertentu yang dianggap sesuai.[74]
Etnisitas
Kelompok etnis manusia merupakan suatu kategori sosial yang mengidentifikasi dirinya sebagai satu kesatuan berdasarkan atribut-atribut bersama yang membedakan mereka dari kelompok lain. Atribut-atribut ini dapat berupa kesamaan tradisi, leluhur, bahasa, sejarah, masyarakat, kebudayaan, kebangsaan, agama, ataupun perlakuan sosial di wilayah tempat mereka tinggal.[75][76] Tidak ada satu pun definisi yang disepakati secara universal mengenai apa yang dimaksud dengan kelompok etnis,[77] dan manusia memiliki kemampuan untuk mengubah afiliasi sosialnya dengan relatif mudah, termasuk meninggalkan kelompok yang sebelumnya memiliki ikatan kuat, apabila hal itu dianggap memberi keuntungan pribadi.[78]
Etnisitas berbeda dari konsep ras, yang didasarkan pada ciri-ciri fisik, meskipun keduanya merupakan konstruksi sosial.[79] Penetapan etnisitas bagi suatu populasi sering kali rumit, karena bahkan dalam satu kategori etnis yang sama dapat terdapat berbagai subkelompok yang beragam, dan susunan internal kelompok-kelompok tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu, baik pada tingkat kolektif maupun individu.[80]
Klasifikasi etnis memainkan peran penting dalam pembentukan identitas sosial dan solidaritas kelompok etnopolitik. Identitas etnis juga memiliki keterkaitan erat dengan munculnya negara-bangsa sebagai bentuk organisasi politik dominan pada abad ke-19 dan ke-20.[81][82][83]
Pemerintahan dan politik

Pemerintahan membentuk hukum dan kebijakan yang memengaruhi masyarakat yang berada di bawah kekuasaannya. Sepanjang sejarah umat manusia, telah ada berbagai bentuk pemerintahan dengan sistem distribusi kekuasaan yang beragam, serta tingkat dan cara pengendalian penduduk yang berbeda-beda.[84] Dalam sejarah awal, penyebaran kekuasaan politik sering kali ditentukan oleh ketersediaan air tawar, kesuburan tanah, serta iklim sedang di suatu wilayah.[85] Seiring berkembangnya populasi pertanian yang membentuk komunitas lebih besar dan padat, interaksi antarkelompok meningkat, sehingga mendorong munculnya bentuk-bentuk pemerintahan yang lebih kompleks baik di dalam maupun di antara komunitas tersebut.[86]
Hingga 2022[update], menurut The Economist, 43% pemerintahan nasional di dunia merupakan demokrasi, 35% adalah autokrasi, dan 22% memiliki campuran keduanya.[87] Banyak negara membentuk organisasi politik internasional dan aliansi, dengan yang terbesar adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memiliki 193 negara anggota.[88][89]
Perdagangan dan ekonomi

Perdagangan, yaitu pertukaran barang dan jasa secara sukarela, telah lama menjadi bagian dari masyarakat manusia, dan dianggap sebagai salah satu ciri khas yang membedakan manusia dari hewan lainnya.[90] Perdagangan bahkan disebut-sebut sebagai praktik yang memberi Homo sapiens keunggulan besar atas spesies manusia lainnya; bukti arkeologis menunjukkan bahwa H. sapiens awal telah memanfaatkan jaringan perdagangan jarak jauh untuk menukar barang dan gagasan, yang pada gilirannya memicu ledakan budaya serta menyediakan sumber pangan tambahan ketika perburuan menurun. Jaringan perdagangan semacam itu tidak ditemukan pada Neanderthal yang kini telah punah.[90][91]
Perdagangan pada masa awal umumnya melibatkan pertukaran bahan-bahan untuk membuat alat, seperti obsidian, yang ditukar dalam jarak pendek.[92] Sebaliknya, sepanjang zaman kuno dan abad pertengahan, beberapa jalur perdagangan jarak jauh paling berpengaruh membawa bahan pangan dan barang mewah, seperti dalam perdagangan rempah.[93]
Perekonomian manusia pada masa awal kemungkinan lebih didasarkan pada ekonomi hadiah dibandingkan dengan sistem barter.[94] Bentuk uang paling awal berupa uang komoditas; yang tertua berupa ternak, sedangkan yang paling luas digunakan adalah kerang Monetaria moneta.[95][96] Seiring waktu, uang berkembang menjadi koin yang dikeluarkan pemerintah, uang kertas, dan kemudian uang elektronik.[97][98]
Kajian manusia tentang ekonomi merupakan ilmu sosial yang mempelajari bagaimana masyarakat mengalokasikan sumber daya yang terbatas di antara berbagai individu.[99] Terdapat ketimpangan yang sangat besar dalam distribusi kekayaan di antara umat manusia; pada tahun 2018, di Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat, sepersepuluh penduduk terkaya menguasai lebih dari tujuh persepuluh total kekayaan di wilayah masing-masing.[100]
Konflik

Kecenderungan manusia untuk membunuh sesamanya secara massal melalui konflik terorganisasi (yakni perang) telah lama menjadi pokok perdebatan. Salah satu pandangan beranggapan bahwa perang berevolusi sebagai sarana untuk menyingkirkan para pesaing, dan bahwa kekerasan merupakan ciri bawaan dalam sifat manusia. Manusia melakukan kekerasan terhadap sesamanya pada tingkat yang sebanding dengan primata lain (meskipun manusia lebih sering membunuh sesama dewasa dan memiliki tingkat pembunuhan bayi yang relatif rendah).[101]
Pandangan lain berpendapat bahwa perang merupakan fenomena yang relatif baru, muncul akibat perubahan kondisi sosial.[102] Walau belum ada kesepakatan, bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa perilaku mirip perang baru menjadi lazim sekitar 10.000 tahun lalu, dan di banyak wilayah bahkan lebih baru dari itu.[102]
Analisis filogenetik memperkirakan sekitar 2% dari seluruh kematian manusia disebabkan oleh pembunuhan, angka yang kurang lebih sebanding dengan tingkat pembunuhan pada masyarakat pemburu-pengumpul.[103] Namun, tingkat kekerasan bervariasi secara luas bergantung pada norma sosial,[103][104] dan pada masyarakat yang memiliki sistem hukum serta budaya yang menentang kekerasan, tingkat pembunuhan hanya sekitar 0,01%.[104]
Remove ads
Lihat pula
- Masyarakat sipil
- Konsumerisme
- Kohesi kelompok
- Masyarakat kelas atas
- Perhimpunan ilmiah
- Masyarakat massa
- Masyarakat terbuka
- Garis besar komunitas
- Garis besar kebudayaan
- Garis besar agama
- Garis besar masyarakat
- Asosiasi profesional
- Altruisme timbal balik
- Perkumpulan rahasia
- Konstruksi sosial
- Isyarat sosial
- Permasalahan sosial
- Media sosial
- Jaringan sosial
- Layanan jejaring sosial
- Neurosains sosial
- Pensiun sosial
- Psikologi sosial
- Keterampilan sosial
- Ilmu sosial
- Dukungan sosial
- Subversi sosial
- Pekerjaan sosial
- Keruntuhan masyarakat
- Dampak sosial dari mobil
- Sosiobiologi
- Sosiologi
- Struktur dan agensi
Remove ads
Referensi
Bacaan lanjutan
Pranala luar
Wikiwand - on
Seamless Wikipedia browsing. On steroids.
Remove ads