Top Qs
Timeline
Obrolan
Perspektif
Perang Iran–Israel
konflik bersenjata di Timur Tengah yang mulai pada 13 Juni 2025 Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas
Remove ads
Perang Iran–Israel adalah konflik bersenjata besar yang mulai berlangsung pada 13 Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan udara dan operasi-intelijen luas yang diberi sandi Operasi Rising Lion. Serangan ini menargetkan puluhan lokasi di Iran, termasuk fasilitas nuklir (Natanz, Isfahan, Fordow), kompleks rudal, markas militer, dan lapisan bawah tanah, dengan tujuan menghentikan perkembangan program nuklir Iran dan melumpuhkan kapabilitas pertahanan strategisnya.[34][35][36] Dipersiapkan selama bertahun–tahun oleh Mossad dan militer Israel, Operasi Rising Lion juga dibantu oleh drone berawak ringan dan perangkat AI untuk menentukan target kunci, termasuk ilmuwan nuklir dan komandan IRGC, yang sebagian besar tewas dalam serangan ini.[34][37]
![]() | Artikel ini membahas suatu peristiwa terkini. Informasi pada halaman ini dapat berubah setiap saat seiring dengan perkembangan peristiwa dan laporan berita awal mungkin tidak dapat diandalkan. Pembaruan terakhir untuk artikel ini mungkin tidak mencerminkan informasi terkini. Silakan hapus templat ini apabila sudah lebih dari satu bulan (Juni 2025) |
Dalam hitungan jam, Iran melancarkan Operasi True Promise III menjawab serangan Israel yang menewaskan komandan senior IRGC, ilmuwan nuklir, dan warga sipil termasuk anak-anak.[38] Selama gelombang awal hingga gelombang ke-10, IRGC menjalankan serangkaian serangan besar: puluhan misil balistik dan rudal hipersonik Fattah-1, serta ratusan drone yang diarahkan ke pangkalan udara, pusat intelijen, dan kota-kota Israel seperti Tel Aviv, Yerusalem, Haifa, bahkan situs-situs strategis di Bat Yam dan Herzliya.[39] Israel menyatakan telah menguasai ruang udara di atas Teheran dan berjanji akan terus melakukan serangan hingga ancaman nuklir Iran dinetralisir.[40] Sumber AP News melaporkan bahwa setidaknya 585 orang telah tewas dan lebih dari 1.300 terluka; infrastruktur terganggu, terjadi pemadaman listrik, kekurangan bahan bakar, dan rak-rak toko kosong berkontribusi pada gelombang pengungsian dari Teheran.[41]
Perang Iran–Israel telah memicu dampak geopolitis yang luas. Israel berhasil menguasai ruang udara Iran berkat dukungan intelijen dan senjata mutakhir AS, namun tanpa intervensi langsung Amerika, misalnya penggunaan bom bunker buster ke fasilitas bawah tanah seperti Fordow, Israel tak mampu sepenuhnya memusnahkan program nuklir Iran.[42] Presiden Trump mengubah sikapnya dari ajakan de-eskalasi menuju dorongan dukungan militer penuh kepada Israel, memberikan ultimatum kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei untuk "menyerah tanpa syarat".[43][44] G7 mengeluarkan pernyataan resmi yang mendukung hak pembelaan diri Israel sambil menyerukan de‑eskalasi dan stabilitas di Timur Tengah.[45] Uni Eropa termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris serentak mengutuk agresi Iran serta menegaskan dukungannya terhadap Israel, namun juga mendesak agar tidak memperluas konflik ini dan mengutamakan jalur diplomasi.[46]
Pada 21 Juni 2025, Amerika Serikat secara resmi bergabung dengan Israel dalam konflik udara melawan Iran, menandai eskalasi signifikan dalam Perang Iran–Israel. Berdasarkan laporan BBC, Presiden Trump memerintahkan serangan udara langsung terhadap tiga situs nuklir utama Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan menggunakan bom bunker‑buster dan rudal Tomahawk, menyatakan bahwa AS kini bertindak "sebagai rekan tempur penuh di pihak Israel".[47][48][49]
Remove ads
Latar belakang
Ringkasan
Perspektif
Oposisi Israel–Iran
Sebelum 1979, hubungan Iran–Israel relatif hangat dan bersifat strategis, meskipun tidak sepenuhnya terbuka. Iran Pahlavi di bawah pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi menjadi negara Muslim kedua (setelah Turki) yang mengakui Israel sebagai negara berdaulat pada 1950.[50] Kedua negara tersebut terjalin kerja sama penting berupa perdagangan, energi, dan militer. Iran memasok minyak ke Israel, termasuk melalui proyek pipa Eilat–Ashkelon pada periode 1960-an dan 1970-an. Selain itu, Israel membantu Iran dalam pembangunan intelijen SAVAK dan proyek militer rahasia seperti Project Flower hingga 1979 yang mencakup pengembangan misil dengan komponen Israel dan AS.[51]
Titik balik terjadi pada Revolusi Islam Iran 1979. Pemimpin revolusi, Ayatollah Khomeini, menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah “Setan Besar” dan Israel adalah “Setan Kecil”, lalu memutus hubungan diplomatik dengan Israel. Kedutaan besar Israel di Teheran langsung ditutup pada 18 Februari 1979 dan kemudian diambil alih oleh PLO.[52] Sejak saat itu, Republik Islam Iran mengadopsi politik luar negeri berhaluan anti-Israel, termasuk mendukung kelompok-kelompok bersenjata seperti Hizbullah dan Hamas, serta menyerukan penghancuran entitas Zionis.[53]
Program nuklir Iran
Program nuklir Iran memiliki akar historis yang telah berlangsung sejak dekade 1950-an, bermula lewat insiatif “Atoms for Peace” dari AS dan program penelitian di bawah pemerintahan Shah Pahlavi.[54] Pada 2002, rakyat dan pengamat internasional dikejutkan dengan bocornya fasilitas nuklir tersembunyi di Natanz (untuk pengayaan uranium) dan Arak (reaktor air berat), yang kemudian memicu penyelidikan IAEA dan Resolusi PBB menuntut penangguhan aktivitas pengayaan.[55] Program ini semakin menguat di era Presiden Mahmoud Ahmadinejad (2005–2013), dengan pembangunan fasilitas bawah tanah seperti Fordow dan peningkatan jumlah sentrifugal, hingga mengurangi waktu "breakout" (kemampuan mencapai uranium senjata) yang diperkirakan menjadi beberapa bulan.[56]

Kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada Juli 2015 menjadi babak baru, menetapkan batas pengayaan (maksimum 3,67 % U‑235), pengurangan stok uranium, dan pengawasan intensif oleh IAEA sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi.[57][58] Namun, keluarnya sepihak AS dari JCPOA pada Mei 2018 kembali memicu peningkatan aktivitas nuklir Iran. Di antaranya pengayaan hingga 60 % dan pembalakan pelaksanaan protokol tambahan.[58] Menurut laporan IAEA dan intelijen AS–Uni Eropa, meski Iran telah menyisihkan batasan teknis tersebut, belum ada bukti yang meyakinkan tentang pengembangan senjata nuklir aktif; Iran tetap dinilai sebagai “threshold state” yang memiliki potensi, bukan kapabilitas langsung.[59]
Sejak pertengahan 1995, Benjamin Netanyahu secara konsisten mendorong narasi bahwa Iran “sangat dekat” untuk memiliki bom nuklir, dan sejak saat itu dia kembali mengulangi klaim serupa di berbagai forum internasional. Secara berkali‑kali ia menyatakan bahwa program nuklir Iran bukanlah damai, melainkan dimaksudkan untuk senjata, dan bahwa Iran “hanya tinggal beberapa tahun, mungkin bulan, atau bahkan minggu” dari kedekatan dengan bom nuklir.[60] Pada 27 September 2012, dalam Sidang Umum PBB, Netanyahu menampilkan diagram grafis menyerupai bom dengan sumbu waktu, menyatakan bahwa Iran telah menyelesaikan fase pertama pengayaan uranium dan “oleh musim semi berikutnya, paling lambat musim panas, akan menyelesaikan tingkat pengayaan menengah, dan hanya beberapa bulan atau minggu dari bom”.[61][62] Pengeboman situs-situs nuklir Iran pada Juni 2025 merupakan kelanjutan retorika dan narasi lama yang telah lama diusung oleh Benjamin Netanyahu. Kini pada 2025, serangan udara Israel terhadap fasilitas seperti Natanz dan Fordow — yang disebut sebagai "Operation Rising Lion" dilancarkan dengan alasan bahwa Iran telah “cukup dekat” untuk memproduksi bom nuklir dalam hitungan bulan atau minggu.[63]
Pendahuluan langsung
Pada awal Juni 2025, ketegangan di kawasan Teluk dan Levant meningkat tajam. Pada 5 Juni, milisi Hutsi, yang merupakan proksi Iran melancarkan serangan balistik ke Bandara Ben Gurion di Israel, praktik yang kemudian ditindak oleh pasukan IDF dan memicu pembatasan jalur penerbangan dari maskapai internasional.[64] Di saat bersamaan, IDF melancarkan serangkaian serangan udara terhadap fasilitas drone produksinya di pinggiran Beirut, yang diduga digunakan oleh Hizbullah untuk mempersenjatai serangan lintas perbatasan. Laporan intelijen menyebutkan bahwa sejak awal Juni, Israel telah membentuk komando Iran khusus di dalam Israeli Air Force dan menjalankan latihan militer besar “Glorious Spartan 08” yang melibatkan lebih dari 100 jet tempur F‑15 dan F‑16, menandakan persiapan yang matang terhadap potensi serangan terbuka.[65]

Memasuki pertengahan Juni, situasi semakin memanas. Pada 10 Juni, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) secara resmi menyatakan bahwa Iran telah melanggar kewajiban non-proliferasi nuklir untuk pertama kalinya sejak 2005.[66] Menanggapi putusan ini, Iran mempersiapkan pembukaan fasilitas pengayaan uraniumnya yang ketiga, sementara pemimpinnya memberikan peringatan keras bahwa jika serangan datang, balasannya akan “lebih kuat dan destruktif”.[67] Sementara itu, Amerika Serikat mulai menarik personel non-esensial dari beberapa kedutaan di wilayah Timur Tengah termasuk Baghdad, Yerusalem, dan sekitarnya karena risiko yang meningkat.[68] Israel juga dilaporkan telah melakukan komunikasi dengan Washington mengenai kemungkinan serangan langsung, yang menurut laporan Wall Street Journal dapat terjadi “segera pada akhir minggu jika Teheran menolak tawaran kurangi program nuklir”.[69]
Ketegangan ini mencapai titik kritis pada malam 12–13 Juni. Israel melancarkan operasi rahasia “Operation Rising Lion”, yang dimulai dengan infiltrasi Mossad menggunakan drone kamikaze yang diluncurkan dari pangkalan tersembunyi di dalam Iran, yang menonaktifkan sistem pertahanan udara dan peluncur rudal permukaan ke permukaan.[70] Tepat pada 13 Juni malam, IAF meluncurkan serangkaian serangan udara dan rudal jet tempur terhadap lokasi-lokasi strategis seperti fasilitas Natanz, Fordow, depot misil Shahab dan Isfahan, serta menargetkan sejumlah komandan IRGC.[71]
Remove ads
Kronologi
Ringkasan
Perspektif
13 Juni

Pada 13 Juni 2025, setelah serangan Israel tersebut, Iran melancarkan operasi balasan berskala besar terhadap serangan Israel, menggunakan lebih dari 1.000 proyektil termasuk rudal balistik, rudal jelajah, dan puluhan drone serang dari beberapa wilayah Iran yang diarahkan ke kota-kota strategis Israel seperti Tel Aviv, Yerusalem, Haifa, dan Beersheba. Serangan tersebut menarget sistem pertahanan udara Israel dengan tujuan menembus radar dan menciptakan tekanan terhadap kekuatan militer Israel, sekaligus menyatakan Iran menanggapi serangan brutal Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer mereka sebagai “deklarasi perang”.[72] Respons pertahanan Israel diklaim cukup efektif — sistem Iron Dome, David’s Sling, serta rudal Arrow‑2 dan Arrow‑3 mampu menangkis sebagian besar serangan, dengan tingkat intersepsi di atas 90% menurut klaim rezim Israel.[73] Meskipun demikian, beberapa rudal dan drone berhasil menembus garis pertahanan, menyebabkan puluhan korban luka dan kerusakan pada infrastruktur sipil, misalnya serangan di Haifa merusak pelabuhan dan bangunan di sekitarnya.[72][74] Akibat serangan ini, terjadi korban jiwa dan luka serius di Israel pada hari itu dan hari-hari berikutnya. Pada 14 Juni tercatat setidaknya 10–14 orang tewas dan puluhan hingga ratusan terluka akibat rudal yang menembus pertahanan. Misalnya, di Tel Aviv dan Ramat Gan terdapat satu kematian dan 63 luka-luka; laporan selanjutnya menunjukkan tambahan 3 tewas dan 172 terluka, serta korban sipil di utara Israel termasuk 5 tewas di Haifa.[75]

Pada hari yang sama, Iran melancarkan operasi balasan berskala besar terhadap serangan Israel, menggunakan lebih dari 1.000 proyektil termasuk rudal balistik, rudal jelajah, dan puluhan drone serang dari beberapa wilayah Iran yang diarahkan ke kota-kota strategis Israel seperti Tel Aviv, Yerusalem, Haifa, dan Beersheba. Serangan tersebut menarget sistem pertahanan udara Israel dengan tujuan menembus radar dan menciptakan tekanan terhadap kekuatan militer Israel, sekaligus menyatakan Iran menanggapi serangan brutal Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer mereka sebagai “deklarasi perang”.[72]
Respons pertahanan Israel cukup efektif — sistem Iron Dome, David’s Sling, serta rudal Arrow‑2 dan Arrow‑3 mampu menangkis sebagian besar serangan, dengan tingkat intersepsi di atas 90% menurut klaim rezim Israel.[73] Meskipun demikian, beberapa rudal dan drone berhasil menembus garis pertahanan, menyebabkan puluhan korban luka dan kerusakan pada infrastruktur sipil, misalnya serangan di Haifa merusak pelabuhan dan bangunan di sekitarnya.[72][74] Akibat serangan ini, terjadi korban jiwa dan luka serius di Israel pada hari itu dan hari-hari berikutnya. Pada 14 Juni tercatat setidaknya 10–14 orang tewas dan puluhan hingga ratusan terluka akibat rudal yang menembus pertahanan. Misalnya, di Tel Aviv dan Ramat Gan terdapat satu kematian dan 63 luka-luka; laporan selanjutnya menunjukkan tambahan 3 tewas dan 172 terluka, serta korban sipil di utara Israel termasuk 5 tewas di Haifa.[75]
14 Juni
Pada dini hari tanggal 14 Juni 2025, sekitar pukul 01.00, Iran melancarkan serangan rudal besar-besaran terhadap wilayah Israel sebagai balasan atas serangan udara sebelumnya. IDF mencatat peluncuran puluhan rudal balistik — sekitar 200 rudal sejak malam sebelumnya, semuanya mengarah ke wilayah Israel utara dan pusat. Sistem pertahanan udara Israel beserta bantuan dari Amerika Serikat berhasil mencegat sebagian dari rudal tersebut.[76] Akibat serangan ini, sedikitnya tujuh orang dilaporkan terluka — sebagian cedera ringan termasuk dua petugas ambulans yang terkena pecahan kaca saat berada di ICU sebuah rumah sakit. Selain itu, sebuah bangunan di Rishon LeZion mengalami tembakan langsung dari rudal, menyebabkan dua warga sipil tewas dan 19 lainnya luka-luka, termasuk seorang bayi berusia tiga bulan yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan.[77][78]

Menurut Kantor Berita Xinhua, beberapa rudal Iran melintasi wilayah udara Suriah dalam perjalanan menuju Israel, dengan sedikitnya dua rudal jatuh di Kegubernuran Daraa (Suriah selatan), yang mendorong Damaskus menghentikan penerbangan karena ketidakstabilan regional.[79] Kebakaran juga terjadi di dekat kilang minyak BAZAN di Haifa, yang mengakibatkan pipa dan saluran transmisi rusak.[80]
Pada pagi hari Sabtu, 14 Juni 2025, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran dengan sasaran utama fasilitas militer dan energi. Menurut laporan media Iran, beberapa proyektil dan ledakan terdengar di sekitar Bandara Internasional Mehrabad di Teheran, menimbulkan kebakaran besar. Serangan ini juga mencakup penembakan drone dan rudal yang dilaporkan menembus wilayah udara di atas Isfahan. IDF menyatakan bahwa mereka berhasil menghancurkan fasilitas bawah tanah di wilayah barat Iran yang digunakan untuk menyimpan puluhan rudal balistik dan jelajah. Pernyataan dari Komandan IDF, termasuk Eyal Zamir dan Tomer Bar, mengklaim bahwa “jalur ke Teheran telah terbuka” dan mereka sudah menguasai sebagian wilayah udara Iran.[81]
Serangan ini menyebabkan kematian sejumlah petinggi militer Iran. Media Iran mengonfirmasi kematian Jenderal Gholamreza Mehrabi (wakil kepala intelijen Angkatan Bersenjata) dan Jenderal Mehdi Rabbani (wakil kepala operasi).[82] Selain itu, pihak berwenang Iran juga melaporkan kerusakan signifikan pada dua ladang minyak/gas Platform 14 di South Pars dan kilang gas Fajr Jam di Bushehr hingga menyebabkan produksi gas terganggu sekitar 12 juta meter kubik.[83] ementara itu, menurut laporan media independen, serangan ini turut menghantam depot bahan bakar dan infrastruktur energi lain, termasuk fasilitas energi penting di dekat lapangan South Pars.[84]
Serangan pada 14 Juni diklaim sebagai operasi udara terbesar Israel terhadap Iran hingga saat itu, melibatkan sekitar 60 pesawat tempur bersenjata 120 bom presisi yang menarget berbagai peralatan nuklir dan militer, seperti pabrik sentrifus Natanz, SPND (Organisasi Inovasi dan Riset Pertahanan), serta fasilitas pertahanan udara.[85]
15 Juni
Pada 15 Juni 2025, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target strategis di wilayah Iran. Operasi ini menyasar fasilitas nuklir dan militer di kota-kota seperti Teheran, Isfahan, Natanz, serta Bandar Udara Internasional Mashhad Hashemi Nejad, tempat pesawat pengisian bahan bakar udara dilaporkan menjadi salah satu sasaran utama. Menurut laporan Al Jazeera, serangan-serangan tersebut dilakukan secara sistematis dengan mengincar pusat-pusat komando militer, gudang senjata permukaan-ke-permukaan, dan infrastruktur nuklir, yang memicu ledakan hebat dan kobaran api di kawasan perkotaan.[86]

Akibat dari serangan ini, korban sipil dan militer Iran dilaporkan mencapai ratusan jiwa. Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan setidaknya 224 orang tewas dan lebih dari 1.400 mengalami luka, termasuk ilmuwan nuklir dan komandan militer senior.[86] Sebelumnya, berbagai agen media (Reuters, Guardians) menyampaikan bahwa serangan juga menewaskan kepala intelijen Garda Revolusi Iran, Mohammad Kazemi, dan beberapa keluarga pejabat tertinggi militer.[87]
Warga sipil di kota-kota besar seperti Teheran dan Isfahan melaporkan evakuasi massal usai instruksi dari Israel, dengan puluhan ribu mengungsi ke provinsi-provinsi utara.[88] Layanan internet diputus total selama berturut-turut pada 17 dan 18 Juni, menyebabkan penurunan hingga 97% dalam penggunaan online nasional.[89]
Iran melancarkan serangan balistik besar-besaran ke Israel sebagai balasan atas serangkaian serangan Israel dengan bantuan AS ke fasilitas nuklir Iran. Bersama kelompok Houthi di Yaman, Iran menembakkan puluhan hingga ratusan rudal ke arah target-target strategis, termasuk kota Tel Aviv, Bandara Ben Gurion, serta kawasan pemukiman di Bat Yam dan Rehovot.[90][91] Terlepas dari sistem pertahanan udara Israel yang mencegat beberapa rudal Iran, sebagian rudal Iran berhasil menembus dan menyebabkan kerusakan signifikan: sembilan orang tewas di Bat Yam dan sekitar 200 orang terluka. Selain itu, rudal menghantam institut ilmiah ternama Weizmann Institute, menyebabkan gangguan pada riset dan rusaknya fasilitas laboratorium.[92][93]
Serangan Iran tersebut juga menyasar kawasan pemukiman dan komersial lainnya, menciptakan kepanikan publik. Di Rehovot dan Ramat Gan, gedung-gedung mengalami kerusakan akibat ledakan, sementara fragmen rudal merusak bangunan di al-Bireh dan Sa'ir di Tepi Barat, menyebabkan beberapa cedera ringan.[94] Beberapa rudal bahkan menarget area dekat kediaman resmi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Caesarea, meski pencegat IDF melaporkan bahwa sebagian besar rudal bisa dicegat.[95] Total korban jiwa di Israel akibat serangan Iran pada hari itu mencapai puluhan, dengan laporan tersedia menyebut setidaknya 9 orang tewas dan hampir 200 terluka.[92][94]
16 Juni
Pada 16 Juni 2025, Israel melanjutkan Operation Rising Lion dengan serangan udara intensif yang difokuskan pada infrastruktur nuklir dan militer Iran. Menurut Reuters, jet tempur Israel membombardir empat gedung di kompleks nuklir Isfahan — termasuk fasilitas konversi uranium dan pembuatan uranium metal yang mengakibatkan hancurnya fasilitas vital untuk program nuklir negara tersebut.[96] Israel juga melancarkan serangan langsung terhadap pangkalan udara Iran, menghancurkan sejumlah jet tempur termasuk pesawat F‑14 Tomcat yang sudah tidak layak terbang. Berdasarkan citra satelit dan rekaman drone yang dirilis IDF, dua unit F‑14 Tomcat di landasan Bandara Mehrabad, Teheran, hancur total, dengan satu jet terbakar habis dan satu lagi mengalami kerusakan parah.[97] Brigadir Jenderal IDF Effie Defrin menyatakan bahwa pesawat tersebut “kemungkinan tidak operasional” namun diamankan untuk dicegah jatuhnya ke tangan musuh, menandai tindakan simbolis penting oleh Israel.[98] Selain F‑14, serangan tersebut juga menargetkan tanker udara KC‑707 pabrikan Boeing yang tidak aktif dan helikopter serang AH‑1J di berbagai bandara militer Iran, merusak amunisi dan fasilitas hangar.[99]

Israel juga melancarkan serangan udara sasaran tepat ke kantor pusat IRIB (Islamic Republic of Iran Broadcasting) di Teheran saat sedang berlangsung siaran langsung, menyebabkan studio IRINN terguncang hebat oleh ledakan dan presenter Sahar Emami terlihat melarikan diri dari ruang siaran seketika.[100] IDF mengonfirmasi serangan ini menargetkan fasilitas media negara yang juga digunakan sebagai pusat komunikasi militer, dan menggunakan empat bom untuk menghancurkan struktur tersebut.[101] Media Iran melaporkan bahwa minimal dua staf IRIB, Nima Rajabpour dan Masoumeh Azimi, tewas akibat serangan ini.[102]
Pada 16 Juni 2025, Iran melancarkan gelombang baru serangan rudal dan drone ke arah Israel sebagai kelanjutan dari rangkaian aksi retaliasi terhadap serangan udara Israel. Serangan itu menyebabkan infrastruktur di beberapa kota besar seperti Tel Aviv dan Haifa rusak parah, dengan sedikitnya delapan warga sipil tewas dan puluhan lainnya terluka, termasuk di wilayah pusat kota Tel Aviv dan Haifa.[103] Serangan tersebut juga menimbulkan kerusakan signifikan pada lembaga dan fasilitas sipil, termasuk serangan fragmentasi rudal yang mencapai gedung sekolah, apartemen, dan fasilitas kedutaan khususnya gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tel Aviv yang menyebabkan gangguan operasional konsuler selama berhari-hari. Beberapa wilayah, seperti Bnei Brak dan Petah Tikva, juga mengalami kerusakan pada bangunan apartemen akibat serpihan rudal, dengan laporan menyebut keterbatasan pelayanan listrik dan internet memperlambat proses evakuasi korban dan pencarian jenazah yang tertimbun puing.[104][105]
17 Juni

IDF membunuh Mayor Jenderal Ali Shadmani beberapa hari setelah ia diangkat menjadi komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya.[106][107] Menurut media Israel, The Jerusalem Post, Shadmani tewas bersama puluhan perwira IRGC.[108] Israel mengatakan bahwa mereka melakukan "beberapa serangan besar-besaran" terhadap target militer di Iran barat, yang menargetkan peluncur rudal dan fasilitas penyimpanan UAV.[109] Menurut Kantor Berita Mehr, sebuah roket Israel menghantam sebuah pos pemeriksaan di Kashan, menewaskan tiga orang dan melukai empat lainnya.[110] Pasukan Israel menyerang sebuah bangunan tempat tinggal di Teheran, menurut IRNA, yang juga melaporkan bahwa tiga orang diselamatkan dari reruntuhan oleh Bulan Sabit Merah.[111] IDF mengumumkan bahwa mereka melakukan serangan besar-besaran terhadap peluncur rudal balistik Iran di Isfahan menggunakan 60 jet tempur dan bahwa 12 lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal terkena serangan tersebut.[112] Bank Sepah milik negara menjadi sasaran serangan siber dan kelompok peretas Predatory Sparrow mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.[113][114] Jet tempur Israel menyerang peluncur rudal Iran di Iran bagian barat dan Angkatan Darat Iran mengklaim telah menembak jatuh 28 "pesawat musuh" termasuk pesawat mata-mata tanpa awak. Israel membantah klaim tersebut.[115]
Pada pagi hari, Iran meluncurkan sekitar 20 rudal ke Israel, melukai lima orang ringan, dan menyerang sejumlah target di seluruh Israel, menghantam Tel Aviv serta kawasan permukiman di Bat Yam dan Tamra.[116][117] Ynet melaporkan bahwa rudal Iran menghantam kota Herzliya, merusak gedung delapan lantai dan membakar sebuah bus kosong.[118] Ledakan terdengar di distrik Dan sekitar Tel Aviv dan Yerusalem Barat.[119] Times of Israel melaporkan Israel menembak jatuh 30 pesawat nirawak Iran semalam.[120] IRGC mengklaim telah menyerang pusat intelijen militer dan pusat perencanaan operasi Mossad di Israel, dengan empat dampak di Tel Aviv, termasuk Kamp Moshe Dayan yang diserang secara langsung.[121] Institut Studi Perang mencatat bahwa lima serangan pagi itu memiliki rudal yang lebih sedikit daripada serangan salvo sebelumnya, yang dianggapnya sebagai indikasi degradasi kekuatan rudal Iran.[122]
Remove ads
Catatan
- Terlibat secara tidak langsung sejak dimulainya konflik, terlibat langsung selama Operasi Midnight Hammer pada tanggal 22 Juni (02:10–02:35 IRST).
- Seorang wanita Israel meninggal karena serangan jantung saat berlindung dari rudal Iran.[7]
Referensi
Wikiwand - on
Seamless Wikipedia browsing. On steroids.
Remove ads