Top Qs
Timeline
Obrolan
Perspektif
Nasionalisme etnik Korea
Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas
Remove ads
Nasionalisme etnik Korea atau nasionalisme rasial Korea[2] adalah ideologi politik di Korea Utara dan Selatan[3][4][5] yang didasarkan pada kepercayaan bahwa Korea merupakan suatu bangsa, "ras" dan kelompok etnik yang memiliki darah yang sama dan budaya tersendiri.[6] Konsep ini bertumpu pada gagasan minjok (Hangul: 민족; Hanja: 民族), yaitu istilah yang diciptakan di Kekaisaran Jepang pada periode Meiji awal atas dasar Darwinisme sosial. Minjok dapat diterjemahkan menjadi "bangsa", "kelompok etnik", "ras", dan "ras-bangsa".[7][8][9][10]

Konsep ini mulai dianut oleh kaum intelektual di Korea setelah Jepang mendirikan protektorat di Korea pada tahun 1905,[11] dan Jepang mencoba untuk meyakinkan orang Korea bahwa orang Jepang dan Korea merupakan bagian dari ras yang sama.[12][13] Gagasan "minjok" Korea pertama kali dipopulerkan oleh penulis esai dan sejarawan Shin Chaeho dalam bukunya, Doksa Sillon (1908), yang menjabarkan sejarah Korea dari masa mitos Dangun hingga jatuhnya Balhae pada tahun 926. Shin menggambarkan "minjok" sebagai ras yang suka berperang dan telah berjuang untuk melestarikan identitas Korea, kemudian mengalami kemunduran dan kini harus dibangkitkan.[14] Pada masa penjajahan Jepang (1910–1945), kepercayaan akan keunikan minjok Korea mendorong pergerakan yang menentang kebijakan asimilasi budaya Jepang.[15]
Di Jepang dan Jerman, nasionalisme etnik dikecam setelah Perang Dunia II karena dikaitkan dengan ultranasionalisme atau Nazisme,[16] tetapi Korea Utara dan Selatan masih tetap mengklaim homogenitas etnik dan garis keturunan ras "Han Agung" yang murni.[12][17] Pada tahun 1960-an, Presiden Park Chung-hee menggunakan "ideologi kemurnian ras" untuk melegitimasi kekuasaannya,[18] sementara propaganda Korea Utara menggambarkan bangsa Korea sebagai "ras yang paling bersih".[12][13] Sejarawan kontemporer Korea masih terus menulis tentang "warisan ras dan budaya [Korea] yang unik."[19] Gagasan bersama ini masih terus membentuk politik dan hubungan luar negeri Korea,[17] menjadi kebanggaan nasional bagi bangsa Korea,[20] dan mendorong harapan untuk menyatukan kembali dua Korea.[21]
Walaupun statistik menunjukkan bahwa Korea Selatan berubah menjadi masyarakat multietnik,[22] sebagian besar penduduk Korea Selatan masih menganggap diri mereka sebagai "satu bangsa" (bahasa Korea: 단일민족; Hanja: 單一民族, danil minjok) yang disatukan oleh garis keturunan yang sama.[23] Penekanan terhadap pentingnya "kemurnian darah" Korea[24] telah memicu ketegangan dan perdebatan mengenai multikulturalisme dan rasisme di Korea Selatan.[22]
Remove ads
Catatan kaki
Wikiwand - on
Seamless Wikipedia browsing. On steroids.
Remove ads